AJBOOKS STORE
Bagian I
Catalina si Pemberontak
London
Suara kaki terdengar perlahan di tengah keheningan subuh. Sedikit basah karena hujan yang turun terus menerus. Perlahan menghindari tempat yang tergenang air. Sedikit meloncat ke kiri dan kekanan.
Siluet ramping itu sedikit mengendap-endap takut menarik perhatian.
Menarik ujung selendang yang melingkar di leher. Menutup sebahagian wajahnya seperti takut ada yang mengenal dirinya.
Sekilas wajah mungil terlihat ketika cahaya lampu mobil yang lewat menyoroti dirinya.
Wajah putih itu tertegun ketika sorotan lampu mobil mengenai wajahnya. Ketakutan langsung menyelimuti sekujur tubuhnya.
Aku tidak mau tertangkap.
Teringat perjuangannya bagaimana dia bisa sampai di London Utara ini melarikan diri dari rumah. Meninggalkan semua kesukaannya yang ada.
Rencana ini sudah lama dia buat dengan Shina, pembantu rumah.
Sudah sebulan ini, di dalam keluarga penuh dengan rencana pengaturan pertunangannya. Tanpa bertanya apakah Catalina bersedia.
Catalina atau Cat nama yang sering dipanggil oleh orang-orang yang mengenalnya. Gadis cantik berkulit putih dengan rambut coklat terang.
Hanya karena surat wasiat yang ditulis oleh Max, kakeknya, yang berisi perjanjian dengan sahabat baiknya. Kedua cucu mereka akan ditunangkan.
Aku kan bukan cucu satu-satunya. Kenapa harus aku yang dipilih. Batinnya menjerit karena ketidak adilan yang dia terima.
Sampai Tempat Persembunyian
Akhirnya, sampai juga di depan pintu besar berwarna putih di daerah London Barat.
Jari jemarinya yang kecil mungil gemetaran sambil memencet bel yang ada di sebelah kanan pintu besar itu. Terdengar suara bel menggema di dalam rumah besar.
Sambil menghembuskan nafas hangat dari bibir mungilnya kedua belah talapak tangan digosok untuk menimbulkan sensasi panas dan ditangkupkan ke pipi putihnya sehingga nampak rona merah mulai menjalar.
Catalina berjinjit menggerakkan kakinya biar kehangatan bisa menjalar keseluruh tubuhnya.
Terdengar langkah kaki dari dalam rumah menuju pintu tempat Catalina berdiri.
"Cat!" seruan dari seorang gadis yang keluar dari dalam rumah. Teriakkan karena ketidakpercayaan, melihat teman tercintanya berdiri di depan pintu rumah menggigil kedinginan.
Catalina menyeringai melihat kelakuan Rhene yang berteriak melihatnya. Padahal mereka sudah janjian melalui telepon genggam akan bertemu di rumah Rhene.
"Shut ... kau tidak akan membangunkan seluruh tetangga di blok ini kan Rhene?"
"Iya, hehe maafkan, aku tidak bisa menahan keterkejutanku rasanya tidak percaya, dirimu yang biasanya bersembunyi di rumah sekarang berdiri di sini. Ada apa Cat?”
Rhene menarik tangan Cat memasuki ruang tamu.
"Duduk, Cat. Hangatkan dirimu di perapian. Ceritakan semua yang terjadi, jangan ada yang terlewatkan. Aku ingin mengetahui secara rinci dari awal. Sebentar aku ambilkan minum buatmu.” Tangannya langsung cepat meraih bel yang berada di meja.
Suara bel menggema diseluruh ruangan.
"Mr. Buler tolong ambilkan wine buat Miss. Caty. Biar kebekuan mencair dari badannya," perintah Rhene sambil melemparkan senyum menggoda ke arah Catalina.
"Iseng kamu Rhene. Memangnya aku es batu?" Catalina membalas godaan Rhene.
Tak lama kemudian, Mr. Buler kepala rumah tangga keluarga Rhene menghampiri Catalina sambil membawa nampan berisi sup ayam, wine dan air putih hangat yang dibutuhkan Cat.
“Silahkan, Miss Cathy.”
"Aku tidak tahu lagi apa yang akan aku perbuat. Bersyukur aku memilikimu Rhene!"
“Menyebalkan ... semua memilihku sebagai calon tunangan, siapa itu namanya? Aku kok lupa!” Sambil tangannya menggosok keningnya,Cat mencoba mengingat-ingat nama calon tunangannya.
Padahal di dalam silsilah keluarga, masih ada sepupu perempuan anak bibinya yang bisa masuk kriteria itu.
Sambil menyandarkan diri ke kursi, Cat menekuk kaki dan memeluk dengan erat kedua betisnya. Wajahnya sekarang lebih hangat, sedikit memerah karena kemarahan yang dikeluarkan. Sesekali tangannya mengusap wajah dan pipinya yang merasa dingin.
Rhene dari tadi hanya memperhatikan sahabatnya, tanpa sadar tersenyum melihat kemarahan yang sedang ditumpahkan Catalina.
"Hayo terus keluarkan kekesalanmu. Biar tuntas!"
Catalina yang mendengar seruan Rhene menjadi lebih bersemangat, seperti ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengeluarkan seluruh ganjalan yang ada di hati.
*****
Hanya Kau
Oleh Audy Jo
Hak Cipta ada pada Audy Jo
Terima kasih sudah membaca bukuku. Love, Audy Jo
DAFTAR ISI
Cover ……………………………………………………..….... i
Judul ................................................................ ii
Hak cipta ......................................................... iii
Sambutan ........................................................ iv
Daftar Isi :
1. Catalina si Pemberontak ………………..….. 1
2. Sampai Tempat Persembunyian …..……. 4
3. Surat Wasiat yang Mengguncang ….….. 11
4. Berteman dari Kecil …………………………… 16
5. Kabar Mr. Berty ………………………………… 19
6. Ledakkan di Keluarga Kandenger ………. 27
7. Berpetualang di London ……………………. 30
8. Spot Bertemu ……………………………………. 33
9. Suara yang Menarik ………………………….. 39
10.Bertemu Pertama Kali ………………………. 48
11.Melangkah Lebih Dekat ……………………. 59
12.Saat Mendebarkan …………………………… 63
13.Pertemuan yang Menyatukan ………….. 65
Profile Penulis …………………………………………….. 68
Bagian I
Catalina si Pemberontak
London
Suara kaki terdengar perlahan di tengah keheningan subuh. Sedikit basah karena hujan yang turun terus menerus. Perlahan menghindari tempat yang tergenang air. Sedikit meloncat ke kiri dan kekanan.
Siluet ramping itu sedikit mengendap-endap takut menarik perhatian.
Menarik ujung selendang yang melingkar di leher. Menutup sebahagian wajahnya seperti takut ada yang mengenal dirinya.
Sekilas wajah mungil terlihat ketika cahaya lampu mobil yang lewat menyoroti dirinya.
Wajah putih itu tertegun ketika sorotan lampu mobil mengenai wajahnya. Ketakutan langsung menyelimuti sekujur tubuhnya.
Aku tidak mau tertangkap.
Teringat perjuangannya bagaimana dia bisa sampai di London Utara ini melarikan diri dari rumah. Meninggalkan semua kesukaannya yang ada.
Rencana ini sudah lama dia buat dengan Shina, pembantu rumah.
Sudah sebulan ini, di dalam keluarga penuh dengan rencana pengaturan pertunangannya. Tanpa bertanya apakah Catalina bersedia.
Catalina atau Cat nama yang sering dipanggil oleh orang-orang yang mengenalnya. Gadis cantik berkulit putih dengan rambut coklat terang.
Hanya karena surat wasiat yang ditulis oleh Max, kakeknya, yang berisi perjanjian dengan sahabat baiknya. Kedua cucu mereka akan ditunangkan.
Aku kan bukan cucu satu-satunya. Kenapa harus aku yang dipilih. Batinnya menjerit karena ketidak adilan yang dia terima.
Sampai Tempat Persembunyian
Akhirnya, sampai juga di depan pintu besar berwarna putih di daerah London Barat.
Jari jemarinya yang kecil mungil gemetaran sambil memencet bel yang ada di sebelah kanan pintu besar itu. Terdengar suara bel menggema di dalam rumah besar.
Sambil menghembuskan nafas hangat dari bibir mungilnya kedua belah talapak tangan digosok untuk menimbulkan sensasi panas dan ditangkupkan ke pipi putihnya sehingga nampak rona merah mulai menjalar.
Catalina berjinjit menggerakkan kakinya biar kehangatan bisa menjalar keseluruh tubuhnya.
Terdengar langkah kaki dari dalam rumah menuju pintu tempat Catalina berdiri.
"Cat!" seruan dari seorang gadis yang keluar dari dalam rumah. Teriakkan karena ketidakpercayaan, melihat teman tercintanya berdiri di depan pintu rumah menggigil kedinginan.
Catalina menyeringai melihat kelakuan Rhene yang berteriak melihatnya. Padahal mereka sudah janjian melalui telepon genggam akan bertemu di rumah Rhene.
"Shut ... kau tidak akan membangunkan seluruh tetangga di blok ini kan Rhene?"
"Iya, hehe maafkan, aku tidak bisa menahan keterkejutanku rasanya tidak percaya, dirimu yang biasanya bersembunyi di rumah sekarang berdiri di sini. Ada apa Cat?”
Rhene menarik tangan Cat memasuki ruang tamu.
"Duduk, Cat. Hangatkan dirimu di perapian. Ceritakan semua yang terjadi, jangan ada yang terlewatkan. Aku ingin mengetahui secara rinci dari awal. Sebentar aku ambilkan minum buatmu.” Tangannya langsung cepat meraih bel yang berada di meja.
Suara bel menggema diseluruh ruangan.
"Mr. Buler tolong ambilkan wine buat Miss. Caty. Biar kebekuan mencair dari badannya," perintah Rhene sambil melemparkan senyum menggoda ke arah Catalina.
"Iseng kamu Rhene. Memangnya aku es batu?" Catalina membalas godaan Rhene.
Tak lama kemudian, Mr. Buler kepala rumah tangga keluarga Rhene menghampiri Catalina sambil membawa nampan berisi sup ayam, wine dan air putih hangat yang dibutuhkan Cat.
“Silahkan, Miss Cathy.”
"Aku tidak tahu lagi apa yang akan aku perbuat. Bersyukur aku memilikimu Rhene!"
“Menyebalkan ... semua memilihku sebagai calon tunangan, siapa itu namanya? Aku kok lupa!” Sambil tangannya menggosok keningnya,Cat mencoba mengingat-ingat nama calon tunangannya.
Padahal di dalam silsilah keluarga, masih ada sepupu perempuan anak bibinya yang bisa masuk kriteria itu.
Sambil menyandarkan diri ke kursi, Cat menekuk kaki dan memeluk dengan erat kedua betisnya. Wajahnya sekarang lebih hangat, sedikit memerah karena kemarahan yang dikeluarkan. Sesekali tangannya mengusap wajah dan pipinya yang merasa dingin.
Rhene dari tadi hanya memperhatikan sahabatnya, tanpa sadar tersenyum melihat kemarahan yang sedang ditumpahkan Catalina.
"Hayo terus keluarkan kekesalanmu. Biar tuntas!"
Catalina yang mendengar seruan Rhene menjadi lebih bersemangat, seperti ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengeluarkan seluruh ganjalan yang ada di hati.
*****
Surat Wasiat yang mengguncang
"Haaa! Aku tidak mau! Jangan aku Ma! Mengapa harus aku? Masih banyak perempuan lain. Aku tidak mau!" Suara jeritan Cat menggema di ruangan keluarga Cantrile.
Seluruh keluarga sedang berkumpul di ruangan besar, membahas surat wasiat yang dibuka oleh Mr. Berty, kuasa hukum Maximiliamus Cantrile, kakek Cat.
"Gimana sih Cat, kamukan belum bertemu dengan calonmu sudah menjerit saja, tidak karuan. Kakek memilihmu pasti ada pertimbangan lain, tidak semudah itu menulis namamu di surat wasiat. Jangan begitu Cat!" Meriel sedikit membentak, melihat penolakkan putrinya.
Catalina menundukkan kepalanya. Kedua Tangannya kadang dikepal dengan keras. Sesekali sambil membereskan gaunnya yang tidak kusut hanya untuk menghindari tatapan kemarahan dari Meriel.
"Mama juga bertemu papamu lewat perjodohan antar keluarga. Lihat! Kami berdua bisa menyesuaikan diri sampai saat ini, cinta tumbuh sejak kami bertemu. Tidak usah takut Cat, kita sebagai wanita gampang mengatur emosi kapan kita jatuh cinta atau membenci seseorang."
"Tapi, aku masih belum mau menikah secepat ini, Ma. Umurku belum masuk 25 tahun. Masih banyak yang bisa aku kerjakan. Sekarang sudah zaman modern. Tidak ada lagi sistem pertunangan seperti zaman dahulu,” keluh Cat.
"Pokoknya tidak ada waktu untuk bermain-main lagi. Setelah menikah kamu bisa minta ijin suamimu untuk melanjutkan hobi berkuda, dan kesenanganmu yang lain.”
"Come on, Maaa!" jeritnya.
Catalina menarik nafas panjang, serasa ada tekanan di dada yang menindihnya. Rasanya tidak berguna berbantahan dengan mama. Aku harus berhenti.
Meriel meninggalkan putrinya, merasa tidak ada tanda-tanda perlawanan dari Cat. Yang hanya tertunduk lesu di kursinya.
***

Berteman dari Kecil
"Begitulah ..., aku sudah tidak bisa lagi berbantahan dengan ibuku, sehingga aku mengambil keputusan nekat ini.”
Terdengar helaan nafas berat ketika Cat selesai menceritakan kisahnya.
"Kisahmu menyedihkan, Cat, sahut Rhene. Sekarang dirimu sudah aman bersamaku sekarang. Tinggalkan persoalan itu sejenak. Nikmati waktumu bersamaku,” ucap Rhene. Sambil menghampiri Cat, Rhene memeluknya.
“Yuk naik ke kamar, kita lanjut ngobrol. Sebelum itu rawatlah dirimu dengan berendam air hangat.”
Rhene, membunyikan bel untuk memanggil kepala pelayannya.
"Mr. Buler!” teriakan Rhene menggema di ruangan keluarganya.
“Apakah sudah siap bak mandi buat Miss. Cat?"
"Sudah, Miss Rhene."
"Yuk, Cat!" Rhene meraih tangan Cat, menariknya supaya berdiri untuk mengikutinya.
"Aduh sabar, Rhene! Cat agak limbung tidak siap ketika Rhene menariknya berdiri."
Berjalan berdua bergandengan tangan menuju undakan anak tangga. Meniti perlahan sambil memegang rel kayu menuju ruangan atas keluarga Rhene.
Foto nenek buyut dan keluarga Rhene yang terpaku di dinding sepanjang sisi tangga seperti memperhatikan diri Cat.
Serasa ada angin dingin tiba-tiba berhembus di kulit Cat. Hiiih! Cat menggigil sambil mempercepat langkahnya.
Memasuki ruangan yang begitu indah dengan pernak pernik perempuan beranjak dewasa, terasa kehangatan di dada Cat.
"Ayo kamu mandi dulu, Cat!" Rhene berteriak membuyarkan lamunan Cat.
Bagian II
Kabar Mr. Berty
Langkah kaki sedikit berlari terdengar di ruangan yang begitu megah. Kaki yang ramping dengan balutan celana buatan tailor ternama di Inggris.
Tidak banyak orang yang memakai model seperti ini. Hanya kaki yang panjang dan jenjang yang bisa sesuai dengan model terbaru dari Felix Tailor. Salah satu penjahit ternama di jalan Sussex yang terkenal dikalangan para bangsawan.
"Tahan langkahmu sedikit, Arturo!" seruan tegas dan berwibawa dari seorang lelaki paruh baya.
"Ya, Papa. Aku sedikit terkejut karena kedatangan Mr.Berty. Apa ada masalah dengan surat wasiat kakek? Rasanya semua baik-baik saja," ucap Arturo.
"Entahlah, barangkali ada yang perlu di revisi atau ada yang tertinggal."
"Selamat pagi, Mr. Berty!" seru Arthur Kandenger dengan suara khasnya yang ramah. Ada yang bisa kami bantu?"
"Silahkan duduk, Mr. Berty." Arturo mempersilahkan lelaki tua itu untuk duduk di kursi sofa besar di ruangan kerja keluarga Kandenger.
Ruangan yang begitu indah dengan lemari besar seperti di perpustakaan pada umumnya. Berisi dengan banyaknya buku pilihan dari berbagai penjuru dunia. Buku yang dikumpulkan oleh Bangsawan Arthur, ayah Arturo sejak masa muda. Semua dipersiapkan untuk anak dan keturunannya kelak, ketika dia sudah tiada. Legacy for the children.
Berpetualang, ingin mengenal setiap kebudayaan yang ada. Masa indah seorang lajang sebelum bertemu dengan istrinya sekarang, Lady Baxter, ibunda tercinta dari Arturo.
Sekarang jejaknya diikuti oleh anaknya, Arturo.
Berpetualang, hal yang begitu disenanginya, melepaskan masa lajangnya dengan hal yang positif.
Sambil mendekati Mr. Berty, Arthur dan Arturo mengambil posisi duduk masing-masing.
"Terima kasih untuk kesediaan keluarga Kandenger menerima kedatangan mendadak ini. Maafkan untuk kedatangan hari ini. Sebetulnya wasiat dari Mr. Kandenger Senior tidak ada yang berubah dan tidak ada masalah,” Jelas Mr. Berty sambil memperbaiki posisi duduknya, untuk lebih condong mendekatkan dirinya ke arah ayah dan anak, bangsawan Kandenger.
“Namun demikian keluarga Kandenger dimasukan ke dalam wasiat Mr. Maximiliamus Cantrile,” lanjutnya.
“Ada wasiat tambahan yang ditulis beliau dengan kakek kalian. Rest In Peace semoga arwah mereka berdua damai di surga.” Mr.Berty mendesah sambil membuat gerakkan salib di dada.
Semua terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing. Mengingat tragedi yang menimpa kelurga besar mereka. Teringat pertemuan dengan Mr. Kandenger Senior lima hari yang lalu ternyata adalah hari terakhir mereka berkumpul bersama.
Kecelakaan perahu yang dinaiki Mr. Kandenger Senior dengan sahabat baiknya Maximiliamus Cantrile di Danau Windermere[1] saat mereka menuju Belle Isle[2], holme[3] terbesar di Danau itu. Menjadi berita yang menggemparkan Inggris Raya. Ucapan belasungkawa dari penjuru Inggris Raya disampaikan hampir setiap hari.
Castle Kandenger penuh dengan bunga yang dikirim oleh kolega mereka, sahabat keluarga, maupun dari orang yang mereka tidak kenal.
Keheningan yang tiba-tiba itu, terbuyarkan oleh suara kaki yang terdengar memasuki ruangan kerja keluarga Kandenger.
Suara lembut menyapa semua orang yang berada di ruangan.
"Selamat pagi semua. Kehormatan apa sampai Mr. Berty sendiri yang datang berkunjung?" tanya Nina Baxter atau Mrs. Nina Kandenger. Nama gadisnya telah berganti mengikuti nama keluarga suaminya, Arthur.
Nina Bexter, seorang perempuan Wales [4] yang cantik dengan sedikit campuran asia yang eksotik. Berjalan dengan gemulai menuju sofa besar berwarna marun. Sofa kesayangan nyonya rumah kala menyambut tamu.
Mr. Berty berdiri menyambut Nina sambil mencium tangan, tanda hormat yang biasa dilakukan para bangsawan.
Ledakkan di Keluarga Kandenger
Arthur melesat cepat memeluk Nina, istri yang dikasihinya sambil mengantar ke sofa yang akan diduduki.
"Berita yang mengejutkan tetapi menurutku sungguh menggembirakan buat keluarga besar. Sudah lama aku mencari cara bagaimana anakku yang satu ini, bisa mendapatkan pendamping yang sesuai.” Sambil telunjuk Nina menunjuk Arturo
Arturo tertawa mendengar keluh kesah Nina, ibu tercintanya.
"Mama sudah tidak sabar menunggu calon menantu atau cucu yaa?" tanyanya sambil berkelakar.
"Dua-duanya yang kutunggu!" Kapan aku bisa bertemu dengan calon menantuku?" lanjut Nina.
Mr. Berty terkaget ketika mendengar Nina Bexter yang setuju untuk menjodohkan anaknya dengan cucu Mr. Maximiliamus Cantrile.
Keringat dingin terlihat mengucur dari dahi lebar, ciri khas seorang pengacara yang sudah banyak menghadapi segala perkara.
Seperti tercekat di tenggorokan, ketika Mr. Berty dengan kekuatannya memberikan penjelasan. Peristiwa yang baru diketahuinya.
“Sepertinya saya mendapat info kalau dari keluarga besan ada sedikit masalah. Miss Catalina kabur dari rumah karena adanya pertunangan ini. Seluruh keluarga masih mencari keberadaannya dan belum diketemukan.”
Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan keluarga Kandenger. Ketika Mr. Berty menjelaskan masalah yang terjadi.
Entah apa yang akan dibahas sekarang.
Bagian III
Berpetualang di London
"Ah ... hangat!"
Sambil menyibak gelembung sabun yang berada di permukaan, Cat mencoba menikmati waktu saat ini.
Menyenangkan! Sesekali meniup gelembung sabun di depannya. Dirinya serasa berada di dunia yang lain, semua peristiwa yang terjadi terlupakan sejenak.
Menggosok dengan lembut tangan dan kaki putihnya rasa kelelahan yang ada hilang menguap mengikuti uap air mandi hangatnya.
“Aahh!” Desahannya terdengar betapa Cat menikmati waktu sendirinya.
Plop ... menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi agar bau yang dibawanya hilang berganti dengan wangi mawar dari sabun yang dituangkan Mr. Buler tadi.
Cat merasa bersyukur mempunyai teman setia seperti Rhene.
Semua persoalan tidak ada yang mereka sembunyikan. Berdua sudah berjanji, ingin menjadi teman yang bisa diandalkan satu sama lain.
Kalau Rhene nanti ada persoalan, aku harus membantunya.

Spot Bertemu
"Pilih saja sesuai seleramu, Cat!" seru Rhene sedikit jengkel melihat Catalina memilih snack yang ada etalase Kafe Delino.
Tempat kesukaannya untuk mengeluarkan kegundahannya dikala sedang sedih.
Rhene perempuan cantik tinggi semampai. Selalu menjadi buah bibir di London Utara ini. sebagai primadona di kalangan pria bachelor, banyak yang ingin mempersuntingnya tapi hanya di jawabnya, "Tidak, aku masih ingin sendiri."
Entahlah, Rhene hanya ingin mencari seorang pria yang betul-betul sempurna sesuai dengan kriteria dia.
Moto ini kadang suka dijadikan bahan ledekan Cat. "Keburu tua, Rhene! menunggu pangeran impianmu sampai kapan!”
Cat mencari tempat duduk di sudut ruangan yang dekat dengan jendela. Duduk memojok. Malas mau berinteraksi dengan pengunjung kafe ini.
Ah, tempat yang indah dan tepat untuk bersantai dan mengobrol bersama Rhene.
Yang ditunggu masih asyik bersenda gurau dengan pemilik kafe Delino.
Rupanya, Rhene cukup dikenal karena seringnya dia berkunjung di tempat ini.
"Apa sih yang kau bicarakan?” tanya Cat penasaran ketika Rhene menghampirinya, sambil membawa nampan berisi kue.
Sedikit menyeret kursi kayu, Rhene menghempaskan badannya, dan menaruh beberapa kue yang sudah dipilihnya dari etalase kafe.
"Nih! coba favoritku, di kafe ini.” Tangannya menyodorkan kue coklat dengan banyak parutan coklat di atasnya.
Sambil tangan satu lagi mengambil kesukaannya, kue krem keju. "Yum, aku suka ini bisiknya."
"Biasa, basa basi diperlukan untuk mendapatkan beberapa potongan harga untuk snack, yang akan aku beli, hahaha." Akhirnya Rhene menjawab juga pertanyaan yang diajukan Cat. Rhene begitu gembira karena kelakarnya membuat Cat terbelalak.
"Ternyata, dirimu masih tetap saja sebagai penggoda yang mahir. Hati-hati Rhene nanti lamaran bisa datang ke "rumahmu".” Kembali Cat melontarkan balasan untuk menggoda Rhene.
sambil menikmati Kue lezat yang dibawa Rhene, Cat memperhatikan sekeliling kafe. Dengan suasana warna maskulin coklat dan beberapa list hijau, cocok dengan bangku yang dibuat simple dengan dudukan dan sandaran kayu kecuali untuk kaki kursi dari besi yang dicat hijau.
"Bagaimana, baguskan? Suasana kafe ini," tanya Rhene.
Tiba-tiba sebelum Cat menjawab, seseorang masuk dari pintu membuat susana kafe menjadi ramai dengan tergoncangnya lonceng yang ada di atas pintu masuk.
Rhena menggamit lengan Cat, memberitahukan sesosok lelaki tampan jangkung dan langsing, sedang melangkahkan kaki menuju pintu pantry.
Suara yang Menarik
Terdengar sapaan dari pemilik kafe. "Bagaimana kabarmu, Gus!"
"Hai, suara yang berat terdengar di ruangan membalas sapaan Febrian, pemilik kafe.
Sambil melangkah mendekat, lelaki yang dipanggil Gus duduk berhadapan di meja bar, tempat para pelayan biasa mengambil minuman atau makanan yang akan di-serve ke para tamu kafe.
“Bagaimana apakah sudah dapat waitres [5] untuk di kafe kita?”
“Belum, sepertinya sulit untuk saat ini, Gus.”
“Pasang iklan? Sepertinya belum aku lihat di pintu pengumuman itu!”
“Belum, aku baru menyebarkan secara mulut ke mulut saja, Gus. Lebih baik kita kenal orang yang akan kita rekrut. Aku malas bertemu seseorang yang tidak aku kenal. Kalau ada yang saling berhubungan memudahkan kita melacak kalau ada kejadian yang tidak terduga.”
‘Pasang saja pengumuman di pintu, Feb!” Semoga saja bisa kita dapatkan rekrutan baru hari ini.
“Siap boss!” seru si pemilik kafe.
Terasa janggal kenapa yang disebut pemilik kafe menaruh rasa hormat kepada tamu yang baru datang itu, gelitikan di hati Cat sepertinya tidak bisa ditebak. Apakah aku salah menduga? Rasanya seperti terbalik. Apakah tamu yang datang itu pemilik asli kafe ini pikirnya. Ah, bukan urusanku.
“Rhene, bisa enggak kamu carikan aku pekerjaan. Enggak mungkin aku menumpang terus di rumahmu. Apa kata orang tuamu nanti?”
Cat lalu mencondongkan tubuhnya, memperbaiki posisi duduknya. Setelah tadi menguping pembicaraan pemilik kafe yang menjadi perhatiannya.
“Aku seperti parasit hidup yang menumpang makan tidur. Menyebalkan kalau mendapat julukan seperti itu. Biar bagaimanapun aku masih dari keluarga terhormat.” Pecicilan keluar dari mulut kecil Cat.
Rhene mendengarnya tertawa geli.
“Cat … cat, memang kita berteman baru saja?” Wajah Rhene seperti tidak percaya mendengar keluhan Cat.
“Keluargaku, ya keluargamu. Tidak sepicik itu orangtuaku. Mereka selalu welcome kalau berhubungan dengan dirimu. Kamu sudah dianggap anak oleh mereka. Kaukan tahu sendiri, aku anak perempuan satu-satunya di keluarga. Mereka pasti maklum kalau aku membutuhkan saudara perempuan.”
Sambil memeluk pundak Cat, Rhene memberikan usapan perlahan untuk menenangkan Cat.
“Kakak laki-lakiku, tidak bisa diharapkan untuk mengasuh aku terus, dia sudah mempunyai kehidupan sendiri.”
Cat teringat saudara lelaki Rhene, Charles yang tampan. Walaupun menjadi incaran gadis-gadis di kota London, tetapi dia tidak menarik hati Cat, bukan tipikal Cat.
Terlalu lembut untuk seorang laki-laki. Tipikalku seperti laki-laki yang baru masuk tadi, sepertinya namanya Gus kalau tidak salah dengar. Loh, kenapa aku memikirkan lelaki itu ya.
Helaan nafas Cat terdengar sedikit mengganggu Rhene.
“Apa sih yang kamu pikirkan? Helaan nafasmu begitu berat, hahaha.”
Rhene memecah keheningan di kafe, sehingga beberapa wajah menengok ke arah mereka berdua. Sedikit rasa penasaran melihat kedua gadis itu tertawa riang.
Kedua laki-laki yang sedang duduk di meja bar pun merasa terkejut dengan tawa yang tiba-tiba itu. Tanpa disadari mereka menoleh ke arah tawa itu.
Laki-laki yang baru masuk itu tidak lain adalah Arturo yang sering dipanggil Gus oleh Febrian, laki-laki yang berdiri dibalik meja bar. Sedikit tertegun ketika melihat gadis dengan kulit putih itu, “Heeem menarik, cantik.” gumamnya.
Arturo merasa seperti ada magnet yang kuat ketika melihat gadis cantik berambut coklat terang yang sedikit pucat itu, entahlah ada rasa gelitik di hatinya.
Arturo Gustave nama panjangnya, dan hanya sobat baiknya yang biasa memanggilnya Gus. Tiada orang lain yang tahu nama itu selain Febrian sahabatnya.
Keduanya berteman dari kecil. Febrian sebagai keturunan bangsawan juga, sama-sama bersekolah dengan Arturo di sekolah khusus untuk para ningrat di London ini. Kedua rumah mereka berdekatan.
Sejak muda, mereka bercita-cita ingin mendirikan kafe, yang sekarang sudah menjadi kenyataan.
Berharap supaya bisa berdiri sendiri untuk bisa lepas dari cengkraman para orang tua yang masih mengatur bagaimana mereka harus hidup.
Sambil kembali memperhatikan kedua perempuan cantik itu, Arturo bertanya kepada Febrian, “kenal dengan kedua gadis itu?”
“Tidak terlalu kenal aku hanya tahu gadis berambut merah itu. Dia sering mampir kesini untuk minum cofee dan duduk memandang keluar jendela,” jawab Febrian sambil mengarahkan pandangannya ke Rhene.
“Sedangkan yang satu lagi sepertinya baru datang ke kafe ini. mungkin saudaranya dari luar kota. Aksennya sedikit berbeda dengan para gadis di London,” sahut Febrian.
Bertemu Pertama Kali
“Rhene, lihat mereka memasang pengumuman di dinding!” Cat menunjuk ke arah pintu keluar. Ada dinding pengumunan yang dipasang di sana. Biasanya untuk pengumuman promo menu hari ini.
“Coba yuk lihat!” seru Cat.
Sambil bergegas kedua gadis itu menghampiri board yang barusan dipasang kertas.
Benar juga ternyata pemilik kafe ini mencari tenaga kerja.
“Aku mau melamar. Yuk, Rhene!” Cat menggamit lengan Rhene, sambil mengambil kertas yang barusan ditempel.
Cat menghampiri pemilik kafe yang tadi memasangnya.
“Permisi, saya lihat Anda memasang kertas ini, Sir. Apa bisa saya melamar pekerjaan ini?” Cat menyodorkan kertas yang diambilnya. “Saya bersedia untuk bekerja saat ini.”
Febrian yang sedang berjalan kembali ke meja bar, tertegun ketika disodorkan kertas yang baru ditempel di board tak menyangka begitu cepat ada seseorang yang mau bekerja. Sambil terbata-bata dia menjawab, “Oh iya … iya, boleh … boleh, apakah ada pengalaman yang pernah kamu lakukan?”
“Tidak begitu banyak, tetapi ketika di desa, biasanya aku membantu kepala desa membuat events [6] untuk penduduk desa. Biasanya sambil membantu mempersiapkan beberapa hidangan dan minuman. Ada bar yang dipersiapkan di di desa.”
Rasanya lumayan juga pengalaman si rambut coklat itu.
Arturo mendengar penjelasan gadis yang menjadi perhatiannya. Sambil berjalan mendekat ke arah Febrian yang masih tertegun ketika didatangi gadis-gadis cantik yang ingin bekerja.
“Bagaimana, bisakah kita menerima calon waitres ini? Barangkali kita kasih masa percobaan dulu sebulan ini. Lihat apakah dia bisa meng-handle pekerjaaan di kafe kita, Feb!” bisik Arturo.
Kedua gadis itu tertegun ketika sosok yang dipanggil Gus datang menghampiri mereka dan berbicara langsung dengan pemilik kafe itu.
Febrian sepertinya melihat rasa kaget dari kedua gadis itu, ketika Arturo datang menyapa mereka.
“Perkenalkan ini Gustave pemilik kafe ini. Kami berdua pemilik kafe ini.” Febrian dan Arturo yang dipanggil Gustave sama-sama mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan kedua gadis cantik yang merasa terkejut dengan sambutan kedua pemilik kafe.
“Oh, ya … ya, saya Rhene ini Cat. Kami berdua juga teman akrab. Kebetulan Cat sedang berkujung ke rumah saya di London. Dia sepupu jauh yang datang dari desa.”
Mulailah Rhene mengeluarkan cerita yang menutupi cerita sebenarnya kenapa Cat datang mengunjungi dia.
Cat juga sedikit terkaget, ketika Rhene mulai mengeluarkan cerita tentang mereka berdua. Sedikit perubahan di raut wajah Cat. Berharap Rhene mengerti arti kode diraut wajahnya supaya jangan keterusan bercerita tentang kehidupan mereka.
Kedua pria itu belumlah mereka kenal. Apalagi mereka berdua tinggal di London yang terkenal dengan free sex-nya. Rasanya kehati-hatian diperlukan kalau baru kenal.
Hati Cat merasa berdebar, ketika dekat dengan kedua laki-laki itu, khususnya Gus, laki-laki tampan yang dari tadi ia perhatikan. Kenapa aku ini?
“Baiklah, boleh kalau kamu mau mulai kerja,” kata Febrian kepada Cat.
“Aku juga boleh mencobanya?” Tanya Rhene.
“Silahkan saja. Kami harap kalian, para gadis bisa bekerja dengan sungguh-sungguh, bukan menarik para pria untuk menggoda ya,” sahut Febrian.
“Tidaklah, kami juga punya kriteria untuk lelaki idaman kami. Rasanya di kafe ini tidak ada yang menarik hati kami,” sinis Rhene mendengar tudingan Febrian.
Hem memangnya siapa mereka menuding kami gadis baik-baik ini seperti mata keranjang saja. Kekesalan di hati Rhene dan Cat terpancar di wajah mereka. Semua tidak terucapkan hanya ada di kepala mereka.
Walaupun begitu mereka merasa bersyukur, karena besok bisa mulai kerja di tempat ini
Setelah membayar apa yang mereka pesan, Rhene dan Cat pamit permisi pulang, dan berjanji akan datang esok untuk memulai pekerjaan itu.
Sambil berjalan meninggalkan kafe, tanpa sadar Cat memalingkan wajahnya melihat laki-laki tipikalnya. Terkejut ketika melihat laki-laki itu sedang memperhatikannya. Mata itu mengawasinya tajam seperti terpukau dengan dirinya. Hem boleh juga wajah tampan itu. Dia tersenyum lebar kepada Cat. Sambil meninggalkan kafe, Cat tersipu merasa malu. Ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar dari leher ke arah pipinya. Ah, rasa semu merona terpancar di waja Cat.
“Aku suka dengan rambut coklat terang itu,” bisiknya kepada Febrian.
“Bukannya kamu sudah dijodohkan oleh kakekmu?”
“Entahlah aku belum bertemu dengan gadis, jodohku itu,” jawab Arturo.
“Mr. Berty datang ke rumah mengabarkan gadis itu kabur dari rumah. Katanya tidak mau dijodohkan, lanjutnya.
“Nasibmu, Gus!” seru Febrian.
“Aku juga malas dijodohkan, tetapi harus menuruti wasiat kakek, kalau tidak aku tidak bisa mendapat warisannya.”
“tidak usah memikirkan warisanmu. Kan kita sudah mendirikan kafe ini tujuannya untuk lepas dari belenggu orang tuamu,” sahut Febrian, menenangkan kegusaran Arturo.
“Entahlah aku belum terlalu fokus memikiran hal itu. Semoga gadis yang dijodohkan dengan aku juga menolak perjodohan ini. Sehingga kami sama-sama terbebas dari ketentuan wasiat kakek.”
Arturo berjalan menuju pintu kantornya untuk memulai memeriksa pembukuan kafe yang sudah dua hari ini belum dia periksa karena kesibukkan perjodohan yang terjadi.
Bagian IV
Melangkah Lebih Dekat Lagi
“Yesss, akhirnya.”
Rhene menghempaskan badannya di sofa lembut di ruang tamunya.
“Beruntung kamu, langsung dapat kerja, Cat!” seru Rhene.
“Seandainya aku tidak melihat kertas itu ditempelkan. Ah, Tuhan memihak kita, Rhene!” seru Cat.
“Apalagi kedua pemilik kafe sangat tampan,” gumamnya.
“Tetapi kadang menyebalkan, kenapa mereka menuduh kita bekerja di kafe seperti mau menjaring para lelaki kaya. Kalaulah mereka tahu siapa kita, tentu mereka tidak akan sembarangan ngomongnya seperti ini. Menyebalkan!” sergah Rhene.
“Sudah pasti kebanyakan gadis yang mau bekerja di sana tujuan utamanya tentu mencari jodoh untuk meningkatkan kehidupan sosial mereka. Kamu tahu sendiri kafe itu terkenal tempat berkumpulnya para elit, para bachelor [7]yang tampan,” Sindir Cat.
“Benar juga Cat. Charles juga sering berkumpul di sana bersama teman bachelor-nya. Pantas banyak para gadis yang berkumpul juga di sana. Rasanya kafe itu seperti mak comblang antara pria dan gadis lajang,” kelakar Rhene.
Cat dan sahabatnya Rhene tiba-tiba terdiam. Keheningan menyelimuti mereka berdua.
Entahlah apa yang dipikirkan di kepala kedua gadis cantik itu.
Setelah seharian dengan berbagai persoalan yang terjadi. Meskipun di sela-sela itu, ada kegembiraan yang mereka dapatkan.
Barangkali ada juga sebersit keraguan di hati mereka, apakah bisa mereka melakukan pekerjaan yang dianggap orang sebagai pekerjaan buruh kasar karena label mereka sebagai anak bangsawan.
Saat Mendebarkan
“Bangun, Rhene!” seru Cat
Teriakan keterkejutan memecah keheningan pagi.
“Cepat kita terlambat bekerja, ini hari pertama kita. Aku tidak mau ada kalimat sinis yang harus kita terima hari ini. Bangun, sayangku!” Cat tampak gusar ketika melihat Rhene yang tidak bergeming dari tempat tidurnya.
Aduh aku tidak mau hari ini banyak persoalan lagi yang harus terjadi.
Cat berjalan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya sebelum Rhene bangun.
Anak itu mandi lebih lama. Lebih baik aku duluan saja.
Bagian V
Pertemuan yang Menyatukan
"Arturo Gustave Kandenger, Gus."
"Catalina Cantrile, Cat."
Arturo dan Cat tertegun kita diperkenalkan di depan keluarga besar mereka masing- masing.
Beberapa ucapan dorongan dari keluarga masing-masing, mulai terdengar.
"Ayo, Cat. Kenalkan dengan calon suamimu."
"Arturo, ayoo itu yang namanya Catalina, calon isterimu!”
Serasa menjadi tertuduh di tengah keluarga. Semua mata memandang, apa yang akan mereka lakukan.
Di tengah pandangan semua mata, mereka tertawa keras. Menertawakan perjalanan hidup mereka.
"Maafkan, aku tidak mengenalmu lebih cepat, Cat!" Seru Arturo.
Berdua saling menggenggam tangan saling menatap penuh cinta.
Terjadi kehebohan ketika hal itu terjadi.
Meril berteriak, "kalian saling kenal!"
Arturo sambil tertawa, "ini pacarku, yang bekerja di kafe Delino."
"Ah, jodoh tidak lari kemana."
"Sayangku, kalaulah aku tahu, bahwa itu dirimu, aku tidak perlu bersusah payah kabur dari rumah hanya karena perjodohan kita," bisik Cat.
"Tidak apa sayang, kalau begitu perjalanan cinta kita tidak akan semenarik ini. Jangan kabur lagi yaaa."
Keriuhan terjadi ketika melihat pasangan itu berpelukan dan saling berjanji untuk setia.
End
Author Profile:

Audy Jo.
Personal blogger at Cuap-cuap Akoe, ceritadiri.com
Writing antologies books, E-Books Play Store Book, Kindle Amazon, fiction, non-fiction
Instagram Contact @Jorisaudrey
[1] danau alami terbesar di Inggris.
[2] pulau terbesar dari 18 pulau di Windermere , hanya di Distrik Danau Inggris , dan satu-satunya yang pernah dihuni. Panjangnya 1 km.
[3] "holme" atau "holm" berarti pulau kecil berasal dari bahasa Norse Kuno holmr .
[4] merupakan sebuah negara konstituen atau bagian dari negara resmi Britania Raya.
[5] Pramusaji
[6] Acara
[7] Pemuda lajang


